Jumat, 03 Juli 2015

Fanfiction: ONE OK ROCK (1)

35XXXV
Sangat indah. Sudah lama aku ingin melakukan hal ini, berbaring di rerumputan sambil menatap langit. Suasana yang menyenangkan, menenangkan, mengagumkan, entah kata apa lagi yang bisa kuungkapkan untuk menggambarkan pesona alam yang megah ini: Langit malam. Eeh? Tidak percaya betapa mewahnya pemandangan ini?
Coba bayangkan malam dengan bulan sabit yang terlihat lebih besar dari biasanya, langit yang bersih tanpa ada segumpal pun kapas mirip gula-gula, dan taburan bintang yang serupa dengan kismis berkelap-kelip. Di mana sejauh mata memandang hanya ada cahaya berkelip dan tarian rumput ilalang yang terlihat muncul dari bawah kakimu, yang menyeruakkan wanginya yang khas.
“Aahh... Bagaimana aku tak jatuh cinta pada ciptaan-Nya yang hebat ini?” Pujiku sambil merentangkan tangan dengan puas.
“Aduh!”
Eh? Aku berkedip berkali-kali. Siapa yang baru saja meng-aduh? Aku tak ingat aku datang ke tempat ini dengan seseorang. Ngomong-ngomong, kapan aku memutuskan akan pergi kemari? Kapan aku tiba di sini? Dan sebenarnya... di mana ini??
“Hee...??”
Aku bangkit lantas mengusap mataku berulang-ulang. Aku yakin ini mimpi –hanya saja ia tak terlihat seperti mimpi!
“Doushite Miko-chan? Kau baru saja menampar wajahku.”
Jantungku berdegup kencang. Aku mendengar seseorang berkata menggunakan bahasa yang tak asing –bukan bahasa ibuku memang –tapi bahasa yang biasa aku dengar lewat percakapan dalam anime-anime yang biasa ku tonton tiap sabtu dan minggu. Seriously? Nihongo? Dan anehnya lagi, otakku bisa memahaminya dengan fasih, seolah-olah ada mesin penerjemah Jepang-Indonesia yang sudah lama aku biarkan dalam kondisi off selama bertahun-tahun di sudut bagian terdalam otakku yang entah bagaimana –mungkin baru saja terbentur dan switch on dengan sendirinya atau bagaimana pun lah –yang jelas ini ajaib!
Perlahan aku membalikkan tubuhku dan kemudian aku merasa seperti ada biji salak yang tersedat di kerongkongan ketika aku menelan ludah. “Ry.. Ryoo.. ta?”
Berbeda dengan reaksiku yang sampai megap-megap melotot gelagapan gak karu-karuan, sosok di hadapanku itu malah mengernyitkan dahi membuat kedua matanya makin menyipit dan bertanya dengan santainya, “Kamu ini kenapa?”
“Mungkin angin malam sudah membuatnya terbuai sampai wajahnya bengek gitu.” Aku melihat kepala-kepala lain menyembul di balik tubuh Ryota, rupanya sedari tadi mereka ikut tidur telentang di sampingku.
“Taka, apaan sih, kasian ini anak mungkin lagi kedinginan. Kamu kasih jaketmu atau gimana gitu, kek.”
Yang dipanggil Taka itu hanya memanyunkan bibirnya ke depan sambil menyilangkan tangan di depan dada.
“Kalau nggak mau ya udah, aku aja.” Tomoya melepas jaket tebalnya sambil tersenyum. Matanya itu mata orang baik-baik. Ramah. Dan kadang, mata itulah yang suka jadi ‘yang ter-bully“Ini, kamu pake..”
Belum selesai Tomoya dengan kata-katanya, tiba-tiba pandanganku jadi kelam, semuanya tampak hitam. “Nggak usah. Kamu pakai punyaku aja.”
Rupanya Taka! Ia menyerahkan jaket kulit hitamnya tepat di depan mataku. Pantas saja semuanya jadi gelap. Aku memandanginya beberapa saat, aku rasa aku mengenalinya. Ini jaket yang Taka pakai saat photoshoot  yang gambarnya digunakan untuk cover promo konser 35xxxv di Jepang. Kalau tak salah, konsernya masih berlangsung sampai bulan depan.
“Haha.. Sudah berubah jadi tsundere sekarang? Mana king hentai yang katanya ahli ngomong sama gadis-gadis cantik itu?”
Aku mendengar suara lain yang baru saja ikut nimbrung. Suara yang dalam, cowok banget, dan dulunya masih sering muncul di lagu-lagu mereka tahun 2008 ke bawah. Gitaris merangkap sebagai vocal 2 sekaligus si rapper handal plus leader yang bijak, itu pasti Toru!
Omaigosh! All of member! Am I dreaming? Yes, it must be!
Taka menyebelahi dudukku dan memakaikan jaket yang hangat itu, tambah terasa hangat begitu ia merangkul pundakku dan mengelusnya. “Maaf, suasana hatiku sedang buruk saat ini.” Ujarnya tulus. Tapi wajahnya masih saja muram dan kesal.
“Sudahlah Taka, tak usah dipikirkan, toh kita masih punya tour besar di depan kita. Ingat, 35xxxv belum usai. Menghadapi konsermu sendiri saja sudah tumbang, mau tambah kerjaan lagi?” Toru mencoba menenangkan vokalis yang sifat kekanakannya mulai muncul ke permukaan.
“Mori-chan sangat kelelahan di hampir setiap gig dan selalu saja tertidur pulas setelah mendapat relaksasi.” Ryota menerangkan.
“Yah, itu karena aku selalu memberikan semua yang ku miliki –suara, semangat, tenaga dan segala-galanya di setiap konser.” Ujar Taka menerawang apa yang sudah ia lakukan sendiri. Tanpa sadar, ia meletakkan dagunya di pundakku, membuat jantungku bermain irama yang berada di luar kendali. Sangat kencang. Sangat cepat.
“Kalau begitu, fokuslah dengan apa yang kau jalani saat ini. Tentu kau tak mau Marinemesse Fukuoka kecewa karena kau tak memberikan semua yang kau miliki di sana seperti yang sudah kau lakukan di arena-arena sebelumnya, kan?” Tomoya ikut-ikut menenangkan. Ini orang sudah di bully berapa kali pun masih sayang juga ternyata sama member yang lain.
Sepertinya aku mengerti. Di sela-sela 35xxxv tour, mereka mendapat tawaran konser lain, mungkin semacam festival dengan gaji yang nggak seberapa dan pertunjukan mereka dibatasi hanya beberapa menit. Tapi, kalau udah si Taka mah, semuanya pingin dia embat. Entertain sudah jadi bagian hidupnya. Rock, emo, band, semua seperti sudah mengalir dalam darahnya dan tak bisa menolak sedikit pun yang berhubungan dengan hal-hal itu. Sayangnya, manager berpendapat lain. Dan member lain pun juga demikian. Kalau saja Taka tahu, fans juga nggak suka dia berlebihan. Kami ingin kau menjaga kesehatanmu juga. Batinku.
“Kalian benar.”
Aku Taka sembari mendekapku dengan kedua tangan. Aku merasa semakin sesak karena bahagia. Sedangkan di belakang kami, Ryota, Tomoya, dan Toru bernapas lega karena sohib mereka itu mau memahami.
“Oooyy! Mau sampai kapan kalian di sini? Ayo kembali!”
Tiba-tiba muncul di hadapan kami seseorang dengan rambut sewarna rambut jagung yang menguning, persis Ryota, hanya saja dipotong lebih pendek. Kepalanya bundar dan  ia mengenakan kacamata melingkar besar di kedua matanya. Di lehernya menggantung dengan manisnya kamera DSLR yang sepertinya tak pernah lepas dari sana. Orang ini Rui! Hashimoto Rui, sang fotografer yang sudah dengan setia menghasilkan banyak foto-foto keren untuk ONE OK ROCK.
“Yo, Bro, kami akan kembali sebentar lagi.” Ryota mengacungkan jempolnya.
“Yah, setelah satu foto merayakan kembalinya akal bocah yang satu ini.” Toru menepuk kepala Taka dan meletakkan satu tangan lainnya di bahuku, lalu ia merangkul kami dengan erat disusul dengan Tomoya yang ikut-ikutan menepuk kepala Taka dan memunculkan ekspresi wajahnya yang kawaii itu. Kemudian aku merasakan Ryota menepuk bahuku dan tersenyum sambil menunjukkan lambang universal rock dengan tangan kirinya.
“Ich.. Ni.. San.. Hai haii..”
Setelah puas mendengar bunyi “Krik” dari kamera, kami pun kembali. Sejujurnya aku tak mengerti kemana kami harus kembali, tapi ikuti sajalah.
Sepanjang jalan, aku tak bisa berhenti tertawa. Tomoya menggumam kata-kata tidak jelas yang sepertinya hanya ia saja yang mengerti, lalu Taka yang sudah merasa annoyed memukul kepala Tomo dengan tas kecil yang ia bawa.
“Ittaaii!” Jeritnya.
Toru dengan sigap menangkap tubuh Tomo yang oleng dan menggelitiknya dari belakang. “Iyaa!! Tasukete...”
“Hahaha...”                              
Ryota tergelak sembari merekam semua adegan menggunakan kamera kecil miliknya. Sedangkan Rui memfokuskan lensa DSLR nya bersiap siaga siapa tahu ia bisa mendapat gambar yang apik.
Dan aku? Aku cukup menjernihkan lensa mataku, semuanya terasa nyata dan lebih indah menggunakan kedua bola mata ini. Akan ku simpan semua moment berharga dalam memori otak yang kapasitasnya belum bisa ditandingi komputer mana pun ini. Akan ku simpan dan ku kunci rapat-rapat sampai tak ada yang bisa hilang walau pun hanya sepenggal kisah pun. Taka. Toru. Ryota. Tomoya. Rui? Lagi pula, siapa yang bisa melupakan semua peristiwa gila ini? Aku tersenyum sembari merapatkan tubuhku ke antara jaket Taka yang membungkus tubuhku.
“Kimochi.”




***
From: Tomoya's IG
From: Tomoya's IG

So, what do you think? Haha..
FYI: Pernah tahu Taka ngambek karena jatah manggungnya berkurang? Check it out -> https://instagram.com/p/mSF3SFE7c_/
Semua orang punya kelebihan dan kekurangan. Kelebihan Taka, you know lah ada banyak. Kekurangannya, sifat kekanakannya yang terkadang mengurangi ke-profesionalannya. Video itu diambil salah seorang fan yang nonton Van’s Warped Tour 2014 kemarin. Usut punya usut, jatah lagu yang dibawain OOR di konser itu berkurang gara-gara band-band sebelum mereka ada yang tampil melebihi menit yang sudah ditentukan. Nah, si Taka ngambek kan kenapa kok OOR yang harus dikurangi jatahnya, akhirnya habis nyanyi dia langsung nyelonong pergi gitu aja setelah banting mike. Walau pun saya terharu banget penontonnya pada minta Encore, “one more song!!” :’) untung ada si Tomoya sama Toru yang masih memberi hormat seusai pertunjukan dan penonton kayaknya pada nggak sadar tuh, kalau si Taka lagi ngambek, xixixi.
Fans yang baik adalah mereka yang mengakui kekurangan idolanya dan selalu memperingatkan agar si idola mau berubah demi kebaikannya. Setuju? ^^
Saa... arigatou minnaa sudah mau baca tulisan geje ini. See ya in next chapter! Ashita mo yoROCKshiku J.
Oya, Fanfic OOR belakangan ini sudah mati ya. Ayo dong minna pada tulis lagi. Share link nya di comment ya? Biar aku bisa baca juga. Keep calm and listen to ONE OK ROCK!

2 komentar:

  1. wow... boleh boleh fanfic nya. terus nulis ff one ok rock ya.. aku tunggu.

    BalasHapus
  2. Lanjut dong... hehe... :)
    O ya, aku jg nulis fanfic sama songfic OOR lho... langsung aja maen ke blogku yak >>> elisabethcecilia.blogspot.com :) Arigatou...

    BalasHapus